Kamis, 19 Agustus 2021

Ibu Pembaharu (Jurnal 3 Review)

Bismillah,
Akhirnya sampai juga di tahap mereview jurnal ketiga.

Pekan ini aku berpasangan dengan mbak Miftah Irfaniyah yang biasa dipanggil ita yang berasal dari Tanggerang kota.

Mbak ita ini mengangkat tema tentang permasalahan tumbang anak dimasa pandemi. MasyaAllah, benar benar masalah sejuta ibu saat ini yaa, barokallah mbak, semoga menginspirasi.

Setelah melihat isi jurnal dari mbak ita maka yang ingin aku lihat pertama adalah...

Jurnalnya terlalu monoton kerna daku orang visual mbak hihii maapkeun, tapi tak ada template sama sekali  padahal itu membantu orangbyang malas baca sepertikuh...

Kedua di penjabaran kurang lengkap di poin why, dan what dan walaupun ada tidak dipoin seperti yg lainnya.

Ketiga, bahasa penyelesaian masalah kurang detail melainkan masih abstraks kalao menurutku.

Keempat dri semua poin wujud permasalahan sepertinya itu adalah masalah yang dihadapi oleh orang tua bukan murni masalah si anak, dipoin 4 tidak dituliskan contoh secara detail...

Kelima tidak disebutkan berapa rentang usia anak yang ingin dicoba untuk ditata ulang kebiasaan baiknya yang mengendor dimasa pandemi ini.

Yang sudah baik adalah

Mbak ita sadar betul apa masalah yang dihadapinya dan mampu menuliskannya dengan baik.

Lalu mbak ita juga sudah bertemu dengan tim yang solid yang sama sama. Ingin menyelesaikan permasalahan tersebut dan diskusi tim sudah dilakukan.

Selanjutnya semua sumber referensi diskusi jelas disebutkan.

Terakhir, semoga Allah memudahkan perjuangan mbak ita dan team untuk sama sama menemukan sebanyak banyaknya solusi dan menyadarkan para ibu hebat lainnya diluar sana yang memiliki permasalahan yang sama, agar mau mencoba untuk menyelesaikannya.

Sabtu, 14 Agustus 2021

Ibu Pembaharu

Bismillah,
Jurnal kali ini amat luar biasa perjuangannya perjuangan manteman dan perjuanganku...

Sungguh kalau bukan Allah yg membimbing menolong dan memampukan kami, mungkin rasanya tak sanggup...

Blom pulih luka pasca SC dan adaptasi sebagai newmom, qodarullah Allah tambah lagi dengan infeksi covid lengkap dengan semua gejala.

Sempat kecewa, kenapa harus Aku ya Allah?
Sedih kerna nifas menghalangiku dri sholat dan membaca mushaf...
Awal awal menangis, tapi mencoba menerima apasih hikmah dibalik ini semua...

Mencoba mencari nikmat apa yang aku lewatkan sehingga menjadi kufur seperti ini...

Hari demi hari gejala makin berat, ternyata motivasi untuk keluar dari keterpurukan itu jelas sudah ada bayi mungil yang kalau aku menyerah siapa yang hadir menggantikanku?

Ada tiga anak manis lainnya yang ikut merasakan demam dan batuk walau tak seberat gejalaku dan mereka saja mampu untuk tetap ceria...

Pantaskah kumenyerah?

عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال : قال النبي - صلى الله عليه وسلم - : يقول الله تعالى : أنا عند ظن عبدي بي ، وأنا معه إذا ذكرني

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata,”Rasulullah SAW bersabda,’ Sesungguhnya Allah berkata: "Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku" (HR Muslim)  


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." 

(QS. Al Baqoroh 286)


Janji Allah atas ujian bagi manusia itu juga ditegaskan dalam ayat lainnya.

Allah berfirman, " Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)


Melihat ke permasalahan yang nyata dihadapi leader kami di pekan ini lebih luar biasa, sudah pisah dengan 4 anaknya, jadwal.kelahiran anak kelima belum ditentukan, eh terinfeksi covid pulaa

Lalu masihkah pantas ku mengeluh ?

Demikianlah jurnal kali ini lebih dibuat berkat banyaknya diskusi oleh tim keceeh...

Karena kami ibu pembaharu yang bahkan tak tumbang walau covid menyapa...
Semoga siapapunnyang sedang sakit Allah angkat sesegeramungkin sakitnya dan bisa menjadi penggugur dosa..

#ibupembaharu
#jurnalbundasalihah
#bundasalihah
#ibuprofrofesional

Minggu, 01 Agustus 2021

Ibu Pembaharu( Jurnal Review)

Bismillah...
Pekan ini jurnal ibu pembaharu memasuki review kedua, dimana kami dipasangkan dengan teman baru lagi sesama mahasiswi bunsal untuk saling menilai kelayakan jurnal, sekaligus membuka wawasan begitu banyak ibu ingin keluar dan menyelesaikan masalahnya.

Kali ini alhamdulillah dopasangkan dengan ibu muda hebat dari IP Banten yang bernama mbak Hasanah, super gercep nih menghubungi duluan pada saat daku masih di RS dan belum sempat melihat pemaparan ibu live.

Secara jurnal saya melihat ada keinginan kuat dalam diri mbak hasanah untuk memutus luka masa lalu pengasuhan terhadap dirinya yang salah satunya belajar ilmu parenting di kelas perkuliahan ini, kemudian kalau ditebak karena bayang bayang itulah kadang mbak hasanah tak mampu menguasai diri untuk tifak melepas emosi ke buah hatinya. Meski begitu ada usaha besar untuk keluar dan memperbaiki sikapnya. MasyaAllah semoga Allah memudahkan jalanmu ya mbak...

Kemudian secara template yang dibuat oleh mbak hasanah saya ingin mengkritisi beberapa hal diantaranya

Secara tampilan 
Pada template user persona tampak bahwa

Pada template storyboard terlihat bahwa mbak hasanah merunut masalah yg ia punya dan terlihat sangat komunikatif sehingga alur masalah terbaca dengan baik walau disajikan tanpa teks

Pada template pemetaan softskill dan hardskill terlihat penuh dan sepertinya didapat dari hasil talent maping, tetapi
Seharusnya antara softskill dan contoh yang dikuasai isinya tidak sama.

Mbak Hasanah seharusnya jika menuliskan
Adaptibility maka contohnya adalah beliau bisa berkomunikasi dengan baik pada orang yang baru saja dikenalnya.

Jika menuliskan critikal thinking pada bagian contoh seharusnya beliau menuliskan bisa merunut masalah secara mendetail dan jelas dari awal sampai akhir seperti story board yang dibuat itu.

Demikianlah jurnal review ini dibuat karena rasa peduli dan sayangku pada sesama ibu dan agar setiap ibu sadar tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, dan terus menggandeng para ibu lain yang memiliki masalah yang sama.

#materi2
#junalreview
#ibupembaharu
#bundasalihah
#hexagonia
#semestakaryauntukindonesia