Tampilkan postingan dengan label hari ke 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari ke 1. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2018

GAYA BELAJAR

Kali ini masih dengan si kaka partnernya untuk menyelesaikan tantangan, sebenernya bingung menentukan antara tipe auditori atau kinestetik.

Walau sepertinya lebih condong ke kinestetik.

Selama ini taunya secara ilmu anak feeling dominan otak kanan, gaya belajarnya ya harus ditemani, belajar bersama seperti ikutan les misalnya, dia akan lebih paham ketimbang belajar di tempat sepi dan hanya sendiri.

Day 1

Kebetulan gaya belajar ini temanya pas jelang penilaian akhir semester.

Si kaka sedang belajar untuk persiapan class test.

Hari ini mata pelajaran yang diujikan adalah pendidikan agama islam, dan science.

Kebetulan hanya sebagian besar menghapal yaitu "part of body" dan teladan dari nabi adam as, nuh as dan Hud as.

Karena bayangan mamanya masih abstrak untuk tipe gaya belajar, mari kita coba ketiganya.

Tipe visual
Pertama si kaka dicoba untuk melihat gambar part of body di bukunya, dan membaca kisah teladan dengan memperhatikan kalimat per kalimat. Seperti di foto pertama.

Tipe auditori
Dibantu mamanya melafalkan setiap kata dan si kaka menyimak dengan baik apa yang disampaikan, kemudian mengulanginya. Kegiatan belajar dilakukan di kamar yang tenang tanpa diganggu suara televisi atau keributan adiknya.

Tipe kinestetik
Ketiga si kaka diminta untuk menggunakan pensil untuk menunjuk setiap kata di bagian part of body kemudian melafalkannya dengan suara lantang apa yang ditunjuk. Setelah itu diulang dengan menunjuk bagian tubuh yang dilafalkan sambil berdiri tegak.

Lagi lagi hasilnya lebih berpengaruh ke kinestetik, karena dia bisa paham dengan mudah.

Semoga awal yang baik untuk benar benar menemukan gaya belajar si kaka yang sesuai.

#Hari1
#gamelvel4
#gayabelajar
#kuliahbundasayang
#insitutibuprofessional

Kamis, 04 Oktober 2018

MELATIH KEMANDIRIAN

Project kemandirian pertama :

Melatih bersih bersih (menyapu, buang sampah, merapihkan mainan berserakan)

day 1

Si kaka sebenernya anak yang sudah sangat mandiri apalagi akan memiliki dua adik.

Tapi memang belum atau tepatnya tidak pernah diijinkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dll.

Nah saat  ini melalui tantangan bunsay, aku mencoba mengajari si kaka untuk terlibat merapikan rumah.

Yang paling simple adalah kembali merapikan mainan, buang sampah dari tempat sampah yang ada didalam ke tempat sampah di luar rumah, kemudian menyapu lantai.

Karena si kaka sekolah sehari penuh maka kegiatan ini baru bisa dilakukan pada ba'da ashar atau malam hari menjelang tidur seusai review pelajaran di sekolah.

Hari pertama ngomong dulu ke si kaka klo kita bakalan belajar merapikan rumah, anaknya sih excited Alhamdulillah.

Nah pada saat mau praktek, kerna sedikit gangguan dari adiknya, akhirnya si kaka ngambek dan udahan, gak papa ya kak kita coba besok lagi...

Semoga besok gak pake acara ngambek...

#hari1
#gamelevel2
#kemandiriananak
#institutibuprofesional

Rabu, 05 September 2018

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Belajar Sabar

Menjalani kehamilan anak ketiga(16W), dan secara tiba tiba divonis mengidap astma membuat pergerakanku semakin terbatas, bayangkan mana ada pekerjaan rumah tangga yang tidak membuat lelah?

Setelah 4 hari 3 malam rawat inap ternyata statusku belum juga menjadi sehat melainkan berubah menjadi pasien rawat jalan, yang artinya sekitar 2 x dalam sebulan harus bolak balik kontrol ke spesialis paru.

Yang luar biasa adalah suami dan anak anak tetap mau ikut mengantar, dan alasannya kasian klo mamanya bolak balik dan menunggu sendirian. Maklum RS tempatku dirawat ini masuk kategori RS favorit sehingga proses dari antrian dokter sampai ke menunggu obat makan waktu sekitar 3 sampai 4 jam.

Maka yang harus dipersiapkan dari rumah seperti biasa adalah si kaka dan suami harus lebih dulu dikasih pengertian untuk belajar bersabar kerna bayangan mamanya waktu 3 sampai 4 jam itu bukanlah sebentar.

M: "kaka mau ikut ke RS atau main
       krumah mbah uti?"
K:  "ikut aja mah"
M: "yakin kaka bisa tenang dan gak rewel
     "disana?
K : "kan ada papa ama faiz kan mah
      ?nanti aku main ajah"
M: "bener mau ikut, lama loh nunggunya
      kaka bisa... gak ribut minta buru buru
      pulang?"
K : "enggak kok, tapi nanti bawa bekel ya
       mah !"
M : "oke ! Asal janji kaka bisa tenang
      nungguin mama !"
K : " oke mah siap !"

Selain ke kaka bicara jelas juga harus dilakukan ke suami, supaya nantinya gak ada keterpaksaan atau rasa kurang dihargai.

M : "Pap, yakin mo anter aku?"
P  : "iya gak papa bareng bareng aja"
M : "lama loh, bisa sampe jam 9 malem
        ini Dokter rebutan banget,
        bookingnya aja kudu dari pagi ..."
P  : "iya gak masalah kan ada playground
        disana, ntar anak anak aku bawa  
        ksana"
M : "playground ama poli nya beda lantai
        loh, artinya kamu momong mereka
        sendirian, dan paling beberapa jam
        anak anak dah pada bosen, apalagi
        faiz gak bisa duduk tenang, maunya
        jalan kesana kemari, belom lagi
        kalau liat tangga pasti maunya naik
        turun..."
P  : "ya ntar liat situasi aja dulu pertama
        ke playground, klo rewel ya ajak turun
        ke kamu, kan depan polinya luas bisa
        buat faiz jalan bolak balik, udah
        pokoknya teang aja, inget loh astma
        itu gak boleh panik apalagi stress,
        lupa yaah..?
        udahlah tenang mosok iya aku gak
        bisa momong anak sendiri sih ma?
        Bisa lah insyaAllah"
M : "Alhamdulillah deh klo gitu baru aku
        tenang nih"

InsyaAllah dengan sering sering ngomong kayak gini, baik pasangan maupun anak akan mengerti apa yang kita mau dan kita butuhkan dan rasanya minta pendapat mereka pun penting agar komunikasi terjalin dua arah, bukan hanya "maunya mama pokoknya begini, harus !"

Nah permasalahan berbicara dengan keluarga sudah terselesaikan dengan baik, sekarang sepertinya juga harus mulai memotivasi diri sendiri untuk menerima penyakit yang Allah kasih ini dengan lapang dada, bersabar kalau sekarang serba terbatas melakukan aktifitas. Bahkan untuk berjalan terlalu cepat apalagi berlari pun sudah tidak boleh, bersabar untuk tidak menyantap sembarang makanan apalagi yang berpotensi menyebabkan batuk, sama sekali gak boleh cheating walau sekedar sepotong gorengan atau segelas es doger... insyaAllah dimudahkan selama mau berusaha. Apalagi suami pun sudah berkorban gak lagi menyediakan toples kerupuk atau rempeyek kacang kesukaannya, duh malu atuh dia aja berkorban segitunya masa iya akunyah gak bisa demi anak dan calon anak nih harus bisa ah... Bismillah.

Semoga kedepannya terbiasa berbicara dua arah dan mau berusaha mendengar pendapat anggota keluarga yang lainnya ini benar benar menjadi kebiasaan di keluarga kami, Aamiin ya Allah..

#Harike1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional