Wah seruu nih, hari kedelapan sampai ke duabelas diminta untuk membuat data tentang apa saja yang memicu emosi diri...
Ini sebenarnya Aib dan agak risih untuk diceritakan, seharusnya jadi koleksi pribadi gunanya untuk mengenal diri, dan melakukan preventif kedepannya supaya menghindari pemicu yang membuat emosi tersulut...
Kejadian/peristiwa (Realitas External)
1. Dua anak atau lebih bertengkar
2. Suami pulang terlambat
3. Mainan yang selalu berantakan
4. Pekerjaan Rumah Tidak selesai tepat waktu
Emosi
Kesal, ada rasa ingin membentak
Filter Diri (ekspektasi, realita, keyakinan,pengalaman masalalu, nilai yang diyakini)
1. Kebutuhan emosinya tidak terpenuhi, atau cemburu dengan adik/kakak
2. Ada hal urgent yang harus segera diselesaikan
3. Sudah terganggu kaka atau adiknya yang berpindah mainan
4. Management waktu yg kurang baik
Asumsi ( Realitas Internal)
1. Mau lebih diperhatikan
2. Seharusnya berkabar dan menghubungi lebih dulu
3. Minta ditemani bermain
4. Terdistraksi hal lain yang lebih penting
Perasaan Dalam Diri (Realitas Internal)
1. Salahku apa yaa kok sampai berkelahi gitu
2. Kesal kerna biasanya nungguin buat makan malam bersama atau gantian jagain anak
3. Pusing banget liat rumah tak pernah rapi
4. Harusnya ada yang bantuin dong
Reaksi (Ucapan, Perilaku Fisiologis)
Untungnya kesemuanya dimulai dengan istighfar dulu, walau ada teriakan marah dan emosi, segera menjauh dari anak bila memang tidak tertahankan.
Insightnya
Segera beritahu kepada suami sesibuk apapun berkabar hika pulang terlambat, karena ini memicu kekhawatiran berlebih yang berujung jadi kesal atau marah.
Delegasikan tugas rumah ke anak anak yang sebelumnya dilatih dulu sehingga mereka paham apa yang bisa dikerjakan
Berlaku adil dan membiasakan satu orang satu, satu untuk semua atau tidak sama sekali.
Melatih anak untuk terbiasa membereskan rumah dan mainan sebelum berganti lagi mainan berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar